Wednesday, 23 April 2025

Langit Abu-Abu di Kelas 9C

 Elric bukan anak yang mencolok. Tubuhnya kecil, pendiam, dan selalu duduk di pojok kelas. Ia lebih sering menunduk daripada bicara. Di sekolah, dia dikenal sebagai “kamus berjalan” karena nilai-nilainya yang sempurna. Tapi di mata beberapa teman sekelasnya, Elric cuma "target yang mudah."

Kelas 9C bukan kelas biasa. Di sanalah siswa-siswa yang “sulit diatur” dikumpulkan—anak-anak dengan luka dan rahasia yang jarang terlihat. Beberapa hanya nakal, tapi sebagian lain? Kejam.

Hari itu seperti biasa. Elric datang paling awal, duduk di kursinya, dan membuka buku catatannya. Belum lama ia tenggelam dalam tulisan, tasnya sudah dicuri dan dilempar ke luar jendela oleh Raze dan kawan-kawannya.

“Ayo, cari aja tuh di taman, Kamus!” ejek Raze, disambut tawa.

Semua orang melihat, tapi tak satu pun bergerak.

Termasuk Kael, murid baru yang duduk di sebelah Elric. Ia baru pindah sebulan lalu. Pendiam juga, tapi berbeda. Tatapannya tajam seperti sedang menilai medan perang. Ia bukan penakut, hanya pengamat.

Saat Elric diam-diam pergi ke taman untuk mengambil tasnya, Kael ikut. Bukan untuk menolong, tapi untuk memastikan sesuatu. Dan ternyata benar—di taman, dua anak dari geng Raze sudah menunggu.

Namun sebelum mereka sempat bertindak, Kael maju.

“Ngapain kalian? Bikin klub gagal berani?”

“Lah, yang satu ini sok jadi pahlawan?”

Kael hanya menyeringai. Dalam sekejap, ia menendang batu kecil ke arah mata salah satu dari mereka dan menyergap yang lain dengan gerakan cepat. Tak ada luka parah—hanya efek psikologis yang dalam: rasa takut.

Elric menatap dengan kagum. “Kamu… kamu latihan bela diri?”

Kael menyerahkan tasnya. “Aku belajar bertahan.”

Sejak saat itu, Elric dan Kael menjadi teman. Tapi Raze tak senang. Ia merasa harga dirinya diinjak. Ia mulai mencari cara menjatuhkan Kael—bukan hanya dengan otot, tapi dengan jebakan.

Ia menuduh Kael mencuri uang kelas. Hari itu, Kael hampir dikeluarkan. Sampai Elric—si anak paling pendiam di kelas—berdiri, dan untuk pertama kalinya, bersuara.

“Ini semua bohong. Kael nggak salah. Kalian cuma takut sama orang yang kalian nggak bisa atur.”

Semua terdiam. Dan perlahan, satu per satu murid lain ikut bicara. Nerra, Zeid, Avia—semua yang diam mulai berani.

Kebenaran akhirnya terungkap. Raze dihukum. Kael dibebaskan. Elric berubah. Bukan jadi kuat seperti Kael, tapi jadi kuat dengan keberanian.

Langit abu-abu di kelas 9C mulai memudar. Dan untuk pertama kalinya, cahaya masuk melalui jendela kelas—cahaya yang datang dari keberanian kecil yang tumbuh menjadi besar.

No comments:

Post a Comment

Menjawab pertanyaan

 1. Jelaskan proses yang kamu lakukan dalam menyusun karya fiksi tersebut! Mulai dari menentukan ide cerita, membuat kerangka, menulis, hing...