Tuesday, 24 September 2024

NAGA

 Di sebuah desa yang terletak di lembah pegunungan yang sepi, hidup seorang anak bernama Arga. Arga sering mendengar cerita tentang seekor naga yang berdiam di puncak tertinggi gunung itu. Orang-orang desa percaya bahwa naga tersebut adalah penjaga alam, namun sekaligus menjadi ancaman bagi mereka yang berniat jahat.


Suatu hari, desa mengalami kekeringan panjang. Sawah-sawah mengering, dan penduduk mulai kehabisan makanan. Para tetua desa berkumpul, membicarakan solusi, dan akhirnya memutuskan bahwa seseorang harus pergi ke puncak gunung untuk meminta bantuan naga. Namun, tak ada seorang pun yang berani melakukannya.


Arga, meski masih muda, merasa terpanggil. Dia selalu percaya bahwa naga bukanlah makhluk yang kejam. Dengan tekad kuat, ia memutuskan untuk mendaki gunung sendirian. Ia membawa bekal seadanya dan satu niat tulus—meminta sang naga untuk mengembalikan hujan.


Perjalanan Arga tidaklah mudah. Ia melewati hutan yang lebat, tebing curam, dan cuaca yang berubah-ubah. Di tengah jalan, ia bertemu dengan berbagai makhluk hutan—rusa, burung, dan bahkan serigala yang memberinya panduan untuk mencapai puncak. Semua makhluk seolah tahu misi penting yang sedang diembannya.


Setelah beberapa hari, Arga akhirnya tiba di puncak gunung. Di sana, ia melihat gua besar yang dipenuhi cahaya keemasan. Perlahan, dari dalam gua itu, muncul sosok besar dengan sisik berkilauan, mata yang dalam seperti samudera, dan sayap yang terbentang megah. Itu adalah sang naga.


Arga merasa tubuhnya bergetar, tapi ia tetap berdiri tegak. "Wahai penjaga gunung, aku datang untuk memohon bantuanmu. Desaku sedang dilanda kekeringan, dan kami memerlukan hujan agar bisa bertahan hidup."


Sang naga menatap Arga lama. Suara beratnya bergema, "Kenapa kamu, seorang anak kecil, yang datang? Tidakkah mereka mengirim seseorang yang lebih kuat?"


Arga menjawab dengan jujur, "Mungkin aku tidak sekuat mereka, tapi aku datang dengan niat baik. Aku tidak meminta apa pun untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin desaku selamat."


Mendengar kata-kata itu, sang naga tersenyum. "Ketulusanmu adalah kekuatanmu. Banyak yang datang untuk meminta, tapi sedikit yang datang dengan hati seperti milikmu."


Dengan satu hembusan napas, sang naga mengibaskan sayapnya ke arah langit. Awan-awan mulai berkumpul, dan petir menyambar. Hujan deras pun turun membasahi desa di bawah sana.


Arga terkejut dan bersyukur. "Terima kasih, wahai naga. Kau telah menyelamatkan kami."


Sang naga hanya mengangguk, kemudian berkata, "Ingatlah, alam akan selalu mendengar mereka yang mendekatinya dengan hati murni. Kembalilah, dan jadilah penjaga desamu."


Arga pun turun gunung dengan hati penuh kebahagiaan. Ketika ia tiba di desanya, semua penduduk terkejut melihat hujan yang turun. Mereka memuji Arga atas keberaniannya dan menyadari pentingnya menjaga alam dengan baik.


Sejak hari itu, Arga tidak hanya dikenal sebagai anak pemberani, tapi juga sebagai pelindung yang menjalin ikatan dengan alam dan sang naga.


No comments:

Post a Comment

Menjawab pertanyaan

 1. Jelaskan proses yang kamu lakukan dalam menyusun karya fiksi tersebut! Mulai dari menentukan ide cerita, membuat kerangka, menulis, hing...